TANJUNGPINANG, intuisi.net – Di bawah langit Tanjungpinang yang biru cerah, Balai Adat Seri Indra Sakti di Kawasan Gurindam 12 menjadi saksi bisu sebuah peristiwa bersejarah yang menyatukan denyut budaya Melayu dengan semangat kebangsaan Indonesia.
Pada Jumat (14/11/2025), H. Ahmad Muzani, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) sekaligus politisi senior Partai Gerindra, resmi dianugerahi gelar adat Melayu tertinggi: Datok Seri Diwangsa Wira Perdana oleh Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepulauan Riau.
Upacara penabalan yang penuh khidmat ini bukan sekadar seremoni—ia adalah simbol hidupnya kembali nilai-nilai luhur Melayu di tengah arus modernitas, sekaligus pengakuan atas dedikasi seorang negarawan dalam menjaga empat pilar kebangsaan.
Prosesi Adat yang Menyentuh Jiwa
Ritual dimulai dengan pembacaan Warkah Penabalan Gelar yang bergema di ruang adat, disusul pemasangan tanjak kebesaran berwarna emas dan merah marun—lambang wibawa dan kebijaksanaan. Puncaknya, tepuk tepung tawar yang dilakukan oleh para datuk adat, menyiramkan harumnya daun sirih dan bunga melati sebagai doa restu dan keselamatan.
Ratusan tamu undangan—mulai dari Sultan Kepri, para datuk LAM, Gubernur Ansar Ahmad, Wali Kota Batam Amsakar Achmad, hingga masyarakat adat—terpaku dalam keheningan penuh hormat. Beberapa di antaranya tak kuasa menitikan air mata saat tanjak dikenakan di kepala Muzani. “Ini bukan sekadar gelar. Ini amanah yang berat,” ujar seorang datuk tua dengan suara bergetar.
Gubernur Ansar: “Kepri Adalah Jantung Peradaban Melayu”
Dalam sambutannya, Gubernur Kepri Ansar Ahmad menegaskan bahwa penganugerahan ini bukanlah kebetulan.
“Ahmad Muzani bukan hanya pemimpin politik. Ia adalah penjaga demokrasi yang berpegang pada adat. Gelar ini adalah pengakuan atas konsistensinya menjaga amanah rakyat melalui MPR RI,” tegas Ansar, disambut anggukan setuju dari para tokoh adat.
Sementara Wali Kota Batam Amsakar Achmad menambahkan:
“Gelar ini membawa harapan besar. Semoga menjadi teladan bagi generasi muda bahwa kekuasaan tanpa budi pekerti hanyalah fatamorgana.”
Muzani: “Gelar Ini Bukan Mahkota, Tapi Tanggung Jawab”
Dalam pidato yang penuh hikmah, Datok Seri Diwangsa Wira Perdana H. Ahmad Muzani tak lupa mengutip Gurindam 12 karya Raja Ali Haji—kitab suci moral masyarakat Melayu:
“Kemuliaan seseorang bukan ditentukan tahta atau kekuasaan, tapi budi pekerti dan tutur kata.”
Ia lantas menceritakan kisah epik Kongres Pemuda 1926, saat M. Tabrani dan Muhammad Yamin berdebat sengit soal bahasa persatuan. Keputusan mengangkat bahasa Melayu sebagai cikal bakal Bahasa Indonesia disebutnya sebagai teladan kerelaan dan kebesaran jiwa.
“Kini, Bahasa Indonesia—berakar dari Melayu—diakui UNESCO sebagai bahasa internasional ke-10, digunakan oleh lebih dari 285 juta penutur. Ini bukti bahwa budaya Melayu adalah fondasi persatuan bangsa!” tegas Muzani, disambut tepuk tangan meriah yang menggema hingga luar balai.
Komitmen Empat Pilar: Dari Adat ke Negara
Sebagai penutup, Muzani mengangkat pasal 12 Gurindam 12 tentang musyawarah:
“Hati itu kerajaan di dalam tubuh. Jika zalim, maka rusaklah seluruhnya.”
“Sebagai Ketua MPR RI, saya berikrar menjaga Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika dengan hati yang bersih. Gelar ini bukan untuk dipamerkan, tapi untuk dijalankan,” tutupnya dengan suara mantap.
Pesan untuk Generasi Muda
Acara ini bukan hanya seremoni adat—ia adalah panggilan bagi anak muda Indonesia untuk kembali mencintai warisan budaya sebagai akar persatuan. Seperti yang dikatakan seorang pelajar yang hadir:
“Saya bangga melihat pak Muzani memakai tanjak. Ini bukti bahwa budaya Melayu masih hidup dan relevan di era digital.”
Selamat kepada Datok Seri Diwangsa Wira Perdana H. Ahmad Muzani! Semoga gelar ini menjadi lentera yang terus menerangi jalan kebangsaan Indonesia.












