Batam, intuisi.net – Suasana duka mendalam menyelimuti kawasan industri Tanjung Uncang, Kecamatan Batu Aji, Kota Batam, pagi ini. Ledakan dahsyat diikuti kebakaran hebat melanda kapal tanker MT Federal II yang sedang menjalani proses perbaikan di galangan kapal PT ASL Shipyard Indonesia. Insiden maut ini, yang terjadi sekitar pukul 04.00 WIB dini hari, menewaskan 10 pekerja dan melukai 21 lainnya, dengan korban mengalami luka bakar parah hingga 80 persen.
Tragisnya, ini bukanlah kejadian pertama bagi kapal yang sama; empat bulan lalu, MT Federal II juga dilalap api di lokasi yang identik, menewaskan empat jiwa dan melukai lima pekerja lainnya. Sorotan tajam kini tertuju pada kelalaian Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang tampaknya terabaikan, memicu tuntutan mendesak dari pemerintah daerah dan aparat penegak hukum untuk reformasi menyeluruh di sektor galangan kapal Batam.
Kapolres Barelang, Kombes Pol Zaenal Arifin, yang turun langsung ke lokasi kejadian, menggambarkan skala tragedi ini sebagai yang terbesar dibandingkan insiden sebelumnya. “Jumlah korban kali ini jauh lebih banyak, dan ini menunjukkan adanya pola kelalaian yang berulang,” tegasnya kepada wartawan di RS Mutiara Aini Batu Aji, di mana sebagian besar korban dirawat. Berdasarkan data Polresta Barelang, total korban mencapai 31 orang: 10 meninggal dunia dan 21 luka-luka.
Evakuasi korban selesai sekitar pukul 09.00 WIB, dengan jenazah dibawa ke RS Bhayangkara Polda Kepri untuk pemeriksaan forensik. Dua korban meninggal pertama kali dilaporkan di RSUD Embung Fatimah Batu Aji, diidentifikasi sebagai warga lokal berinisial S (45 tahun) dan R (38 tahun), keduanya pekerja kontrak yang tewas akibat luka bakar derajat tiga.
Kapolda Kepulauan Riau, Irjen Pol Asep Safrudin, yang memimpin inspeksi langsung ke galangan kapal pukul 07.00 WIB, menegaskan komitmen Polri untuk mengusut tuntas penyebab ledakan. “Korban yang sudah diketahui sebanyak 28 orang pada tahap awal. Sepuluh di antaranya meninggal dunia, dan 18 masih dalam perawatan intensif. Ini bukan sekadar kecelakaan kerja; kami akan selidiki apakah ada unsur pidana dari manajemen dan subkontraktor,” ujarnya dengan nada tegas, ditemani Kapolsek Batu Aji AKP Raden Bimo Dwi Lambang Wijaya.
Safrudin menambahkan bahwa tim gabungan Ditreskrimum, Inafis, dan Labfor Polda Kepri telah dikerahkan untuk menganalisis puing-puing kapal, dokumen K3, dan rekaman CCTV. “Arahan saya jelas: prioritas utama adalah keadilan bagi korban dan keluarga. Jika terbukti ada pengabaian prosedur, tidak ada ampun bagi pelaku,” lanjutnya, menekankan bahwa penyelidikan akan melibatkan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kepri dan Badan Pengusahaan (BP) Batam.
Pemeriksaan awal mengarah pada ledakan di area Water Ballast Tank (WBT) 2S kapal, tepat saat pekerja melakukan pengelasan di dalam tangki. Sisa gas bahan kimia yang belum dibersihkan sempurna diduga memicu percikan api, yang kemudian menyebar cepat ke seluruh dek kapal. Korban mayoritas berasal dari subkontraktor PT Rotary dan PT Putra Teguh Mandiri, yang bertanggung jawab atas pekerjaan perawatan tangki.
Seorang pekerja selamat yang enggan disebut namanya menceritakan kepada awak media, “Ledakan berawal dari deck bawah. Kami sudah pakai APD, tapi ventilasi tangki kurang memadai. Api langsung menyambar seperti kilat.” Laporan internal perusahaan (Fire Incident Report) yang bocor ke publik memperkuat dugaan ini, menyoroti bahwa prosedur gas-freeing (pembebasan gas berbahaya) mungkin tidak dilakukan secara optimal.
Distribusi korban tersebar di empat rumah sakit utama di Batam: RS Mutiara Aini menangani 15 orang (4 tewas, 5 luka berat, 6 ringan); RS Graha Hermina 7 orang (semua luka berat); RS Elisabeth Sagulung 7 orang (4 tewas, 3 ringan); dan RS Awal Bros serta RSUD Embung Fatimah menampung sisanya, termasuk dua jenazah awal.
Tim medis melaporkan kondisi korban luka sebagian besar kritis, dengan risiko infeksi sekunder tinggi akibat luka bakar luas. Keluarga korban berkerumun di rumah sakit, menuntut santunan cepat dan transparansi dari perusahaan. “Suami saya mati demi roti keluarga, tapi K3 mana? Ini pengorbanan sia-sia,” keluh istri salah satu korban di RS Elisabeth, sambil menahan tangis.
Yang membuat tragedi ini semakin pilu adalah riwayat berulang MT Federal II. Pada 24 Juni 2025, kapal yang sama terbakar saat proses docking serupa, menewaskan empat pekerja dan melukai lima lainnya. Penyelidikan Polresta Barelang waktu itu mengungkap kelalaian dari petugas Healthy, Safety, and Environment (HSE) subkontraktor, yang mengakibatkan dua orang—inisial A dan F—ditetapkan sebagai tersangka.
Meski begitu, operasional galangan kapal dilanjutkan tanpa perubahan signifikan, dan kini insiden kedua terjadi dengan korban lebih banyak. “Ini seperti deja vu yang mematikan. Rekomendasi dari Juni lalu—seperti audit K3 mandiri dan pelatihan HSE wajib—jelas diabaikan,” kritik aktivis buruh dari Serikat Pekerja Indonesia (SPN) Batam, yang mendesak moratorium sementara aktivitas berisiko tinggi di PT ASL Shipyard.












