Trump Janji Paksa Israel Gencatan Senjata Gaza

Ancaman atau Harapan Perdamaian?

Intuisi.net – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pembentukan satuan tugas internasional yang dipimpin AS untuk memaksa Israel mematuhi gencatan senjata di Jalur Gaza, menyusul kesepakatan fase pertama rencana perdamaian 20 poin dengan Hamas. Langkah ini, yang disebut-sebut sebagai tekanan diplomatik keras terhadap Israel, bertujuan mengakhiri konflik berdarah yang telah menewaskan lebih dari 67.000 jiwa, sambil memastikan pembebasan sandera dan rekonstruksi Gaza.

Dalam pidato di Gedung Putih, Trump bersumpah tidak akan mentolerir pelanggaran seperti pada gencatan senjata Maret lalu. “Israel harus patuh, atau mereka akan berhadapan dengan konsekuensi. Ini soal nyawa, sandera, dan masa depan Gaza tanpa pengusiran warga Palestina,” tegas Trump, memicu kontroversi di kalangan pendukung Israel yang melihat ini sebagai sikap pro-Hamas.

Utusan Khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner telah menyampaikan ultimatum Trump kepada Hamas melalui Turki, Mesir, dan Qatar, menghasilkan kesepakatan yang mencakup penarikan pasukan Israel dari Gaza City mulai Jumat malam, pembebasan 20 sandera Israel dalam 72 jam, dan pemulihan jenazah 28 sandera lainnya. Israel akan membebaskan 250 tahanan Palestina, 1.700 tahanan Gaza pasca-7 Oktober 2023, serta semua anak dan perempuan. Penyeberangan Rafah juga dibuka untuk bantuan, menargetkan pendidikan bagi 700.000 anak Gaza.

Pejabat AS mengungkapkan bahwa Trump berusaha menjembatani ketidakpercayaan antara kedua pihak. “Dia mengatakan kepada Netanyahu ini adalah kemenangan strategis, dan kepada Hamas bahwa Gaza tidak akan diambil alih. Tapi tekanan pada Israel jelas lebih keras,” kata salah satu sumber, memicu spekulasi tentang pergeseran kebijakan AS.

Satgas AS, yang ditempatkan di Israel dengan 200 personel ditambah perwira dari Mesir, Qatar, Turki, dan UEA, akan memantau pelanggaran, mengawasi bantuan, memverifikasi pembebasan tahanan, dan mendukung rekonstruksi. Kehadiran pasukan AS ini menuai kritik dari kelompok pro-Israel yang menyebutnya sebagai “intervensi berlebihan,” sementara kelompok kemanusiaan memuji langkah ini sebagai harapan bagi Gaza.

Reaksi beragam bermunculan: warga Tel Aviv merayakan pembebasan sandera, tetapi menolak tekanan AS, sementara warga Gaza seperti Abdelmajid Abedrabbo menyambut gencatan senjata sebagai “akhir penderitaan.” Namun, fase kedua—pelucutan senjata Hamas dan pemerintahan transisi—tetap penuh risiko, terutama dengan pemilu Israel di depan mata.

Trump mengundang Netanyahu ke Kongres AS dan berencana mengunjungi Gaza pasca-pembebasan sandera, tetapi nada konfrontatifnya terhadap Israel memicu perdebatan: apakah ini langkah berani untuk perdamaian atau provokasi yang membahayakan hubungan AS-Israel? Dunia menanti apakah satgas ini akan membawa stabilitas atau memperkeruh konflik.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *