PSG Curi Tiga Poin dari Barcelona

Ramos Cetak Gol Ajaib di Menit 90+5

Intuisi.net – Malam yang seharusnya menjadi pesta bagi Barcelona berubah menjadi mimpi buruk dalam sekejap. Di Estadi Olímpic Lluís Companys, tuan rumah yang digdaya Hansi Flick unggul lebih dulu lewat tendangan halus Ferran Torres di menit ke-19, tapi PSG, sang juara bertahan Liga Champions musim lalu, bangkit dengan ganas. Gol penyama Senny Mayulu di babak pertama dan sundulan mematikan Gonçalo Ramos tepat di injury time menit ke-90+5 membalikkan keadaan: 1-2! Kemenangan ini bukan hanya tiga poin krusial di fase liga UCL Jornad 2, tapi juga sejarah baru – PSG jadi tim pertama yang menang tiga kali berturut-turut di kandang Barca di kompetisi Eropa mayor.

Bayangkan suasana di Montjuïc: 55.000 suporter Blaugrana bergemuruh saat Torres menyambut umpan silang sempurna dari Marcus Rashford, hasil serangan kilat yang melibatkan Lamine Yamal si penyihir berusia 18 tahun dan gelandang jenius Pedri. Gol itu membuat Barca nyaris sempurna, melanjutkan rekor mencetak gol di 45 laga UCL berturut-turut – catatan gila yang belum pernah diraih klub mana pun. “Kami bermain seperti tim yang haus gelar,” ujar Torres pasca-laga, mata masih berbinar meski akhirnya pudar.

Tapi PSG, di bawah komando eks pelatih Barca Luis Enrique, tak pernah menyerah. Mereka yang datang tanpa Ousmane Dembélé (pemenang Ballon d’Or 2025 yang cedera hamstring) dan kapten Marquinhos, justru tampil lebih lapar. Nuno Mendes, bek kiri Portugal yang kontroversial, menyulut equalizer di menit ke-38 dengan serbuan soloisnya yang memabukkan, memberi umpan tarik untuk Mayulu – remaja berbakat 19 tahun – menyipitkan gol keduanya di UCL (yang pertama di final Munich musim lalu!). “Ini seperti déjà vu, tapi kali ini kami yang tertawa terakhir,” canda Enrique, yang dulu membawa Barca juara treble 2015.

Babak kedua? Pertarungan gladiator sungguhan. Barca mendominasi penguasaan bola (62%), tapi pertahanan PSG yang dipimpin Illia Zabarnyi seperti tembok besi. Yamal, bintang masa depan sepakbola dengan 24 penampilan UCL sebelum usia 19 (rekor baru!), nyaris bikin ledakan lagi, tapi sundulannya dimentahkan Hakimi di garis gawang. PSG balas dendam: Bradley Barcola lolos dari Gerard Martín, tapi Wojciech Szczęsny sigap. Kontroversi meledak saat Mendes lolos kartu kuning kedua usai jatuhkan Yamal – wasit Inggris Michael Oliver angkat bicara, tapi Mendes bertahan. “Keputusan itu bisa jadi penentu,” gerutu Flick, yang timnya kelelahan setelah jadwal padat.

Puncak dramanya datang di menit akhir. Lee Kang-in, gelandang Korea yang masuk sebagai cadangan, ngebor gawang Barca dan membentur tiang – sorak penonton campur aduk. Tapi PSG tak berhenti: umpan silang Hakimi dari sisi kanan disambut Ramos, striker Portugal yang baru masuk, dengan sundulan akurat melewati Szczęsny. Gol! 1-2! Pemain PSG berpelukan di pojok, sementara Camp Nou sementara (karena renovasi) hening seketika. Ramos, pahlawan malam itu, berteriak: “Kami ingin menang semuanya lagi!” – merujuk treble PSG musim lalu yang menghajar Inter Milan 5-0 di final.

Dengan hasil ini, PSG naik ke puncak klasemen fase liga UCL dengan 6 poin, imbangi Bayern Munich, Real Madrid, Inter Milan, Arsenal, dan satu tim misterius lagi. Barca? Terjun ke posisi 16 dengan 3 poin, tekanan bertambah untuk duel berikutnya. Flick tak buat alasan: “PSG punya kualitas dan kecepatan tinggi. Mereka layak menang. Kami harus belajar dari ini.” Sementara Enrique, mantan anak asuh Cruyff, tersenyum licik: “Barca selalu spesial, tapi malam ini, Paris yang berbicara.”

Duel klasik ini ingatkan kita: Sepakbola bukan soal unggul dulu, tapi siapa yang bertahan sampai peluit akhir. PSG pulang sebagai pahlawan, Barca? Mereka bangkit dari abu – seperti biasa. Siapkah Jornada 3? Dunia menunggu ledakan berikutnya dari dua raksasa ini!

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *