Kepri, intuisi.net – Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (Free Trade Zone/FTZ) di Batam, Bintan, dan Karimun (BBK) kembali menjadi sorotan. Wakil Gubernur Kepulauan Riau, Nyanyang Haris Pratamura, dengan tegas menyerukan urgensi optimalisasi kawasan FTZ ini sebagai fondasi menuju perluasan yang lebih ambisius. Saya sependapat bahwa langkah ini bukan sekadar kebutuhan, melainkan peluang emas untuk menjadikan Kepulauan Riau sebagai pusat ekonomi regional yang kompetitif.
Pernyataan Nyanyang yang menekankan implementasi optimal Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2024 adalah titik tolak penting. Regulasi ini bukan sekadar payung hukum, tetapi cetak biru untuk mentransformasi BBK menjadi magnet investasi global. Namun, keberhasilan tidak akan datang dengan sendirinya. Penerjemahan regulasi ke dalam praktik lapangan harus dilakukan dengan cerdas dan terukur, sembari menjaga semangat perluasan kawasan FTZ.
Saya melihat empat pilar yang ditekankan Nyanyang—tata kelola, sumber daya manusia, infrastruktur, dan pembiayaan—sebagai fondasi yang saling menguatkan. Tata kelola yang transparan dan efisien akan membangun kepercayaan investor. Peningkatan kualitas SDM, terutama melalui pelatihan dan pendidikan vokasi, akan memastikan tenaga kerja lokal mampu bersaing di pasar global. Infrastruktur, khususnya di Bintan dan Karimun, harus diprioritaskan untuk mengejar ketertinggalan dari Batam yang sudah lebih mapan. Sementara itu, pembiayaan yang memadai akan menjadi katalis bagi pertumbuhan sektor-sektor strategis.
Namun, tantangan terbesar adalah menjaga sinergi antara visi jangka panjang dan eksekusi jangka pendek. Optimalisasi FTZ BBK saat ini bukan hanya soal memperkuat fondasi, tetapi juga membuktikan bahwa Kepulauan Riau siap menyambut investasi skala besar. Bintan dan Karimun, misalnya, perlu percepatan pembangunan infrastruktur agar tidak sekadar menjadi pelengkap Batam, tetapi sebagai pusat pertumbuhan baru yang mandiri.
Saya percaya, jika langkah-langkah ini dijalankan dengan komitmen kuat, FTZ BBK tidak hanya akan menjadi lokomotif ekonomi Kepulauan Riau, tetapi juga contoh sukses bagi FTZ lain di Indonesia. Nyanyang telah meletakkan visi yang jelas; kini saatnya semua pemangku kepentingan—pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat—bekerja sama untuk mewujudkannya. Masa depan cerah Kepulauan Riau ada di tangan kita.












