Batam, intuisi.net – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Agung Raja Hamidah, Batam Center, malam tadi, saat ribuan warga Kepulauan Riau (Kepri) memadati lokasi untuk mengikuti kegiatan Istighosah dan Doa Bersama bertema “Dari Kepulauan Riau untuk Indonesia”. Acara yang diinisiasi oleh Ketua DPRD Provinsi Kepri, Iman Sutiawan, ini dihadiri sekitar 25 ribu jamaah dari berbagai kalangan, termasuk tokoh nasional Wakil Menteri Agama (Wamenag) RI KH Romo Muhammad Syafi’i, serta tokoh lokal seperti Wali Kota Batam Amsakar Achmad, Wakil Gubernur Kepri, dan anggota DPD RI dapil Kepri Ismet Abdullah. Kehadiran para tokoh ini menambah semangat kebersamaan dalam memohon kedamaian dan kemakmuran bagi bangsa.
Kegiatan yang dimulai setelah salat Isya berjamaah ini berlangsung penuh hikmah, dengan lantunan zikir, doa, dan shalawat yang dipimpin oleh para ulama setempat. Wamenag Romo Muhammad Syafi’i, yang tiba di Batam sehari sebelumnya, menyampaikan pesan inspiratif bahwa doa bersama seperti ini menjadi benteng spiritual bagi keutuhan bangsa di tengah dinamika nasional yang kian kompleks. “Kepri telah konsisten menempati peringkat pertama nasional dalam indeks kerukunan umat beragama dengan skor 83,58 pada 2022. Ini bukti bahwa keberagaman bukanlah beban, melainkan kekuatan yang menyatukan kita semua,” ujarnya di hadapan lautan jamaah yang meluber hingga pelataran masjid.
Sementara itu, Wali Kota Batam Amsakar Achmad menekankan peran Batam sebagai miniatur Indonesia yang nyata. “Batam bukan sekadar kota pelabuhan atau kawasan industri, tapi cerminan kebhinekaan Nusantara. Di sini, dari Aceh hingga Papua, dari suku Melayu asli hingga etnis pendatang seperti Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Tionghoa, Sunda, NTT, Banjar, dan bahkan Arab serta India, semuanya hidup berdampingan dalam harmoni. Suku asli seperti Orang Laut dan Orang Darat masih menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kita, meski menghadapi tantangan modernisasi. Istighosah malam ini adalah pengingat bahwa Batam-Kepri adalah laboratorium persatuan, di mana budaya dan agama saling melengkapi untuk membangun Indonesia yang lebih kuat,” tambahnya.
Iman Sutiawan, sebagai inisiator acara, mengajak seluruh masyarakat Kepri untuk terus menjaga kondusifitas di perbatasan negara ini. “Dari bumi segantang lada, doa kita panjatkan untuk Indonesia yang rukun, aman, dan sejahtera. Mari jadikan momen ini sebagai momentum spiritual untuk memperkuat persatuan di tengah isu-isu sensitif yang sering menggoyang bangsa,” pesannya.
Acara ini juga dihadiri jajaran Forkopimda, unsur TNI-Polri, kepala daerah dari berbagai kabupaten/kota di Kepri, serta tokoh masyarakat dan ormas keagamaan. Keberagaman peserta semakin menegaskan narasi Batam sebagai miniatur Indonesia: kota di mana etnis dominan Melayu (26,78%) berbaur dengan Jawa (17,61%), Batak (14,97%), Minangkabau (14,93%), Tionghoa (6,28%), dan puluhan suku lainnya dari Sabang hingga Merauke. Tak hanya itu, kehadiran suku-suku asli seperti Orang Laut—cikal bakal Melayu Riau—dan Orang Darat di Pulau Rempang, menambah kekayaan budaya yang kini terancam punah akibat perkembangan pesat.
Kegiatan Istighosah ini bagian dari rangkaian kunjungan kerja Wamenag di Kepri (20-22 September 2025), yang juga mencakup pertemuan KAHMI se-Sumatera. Dengan dukungan penuh pemerintah daerah, acara ini diharapkan menjadi contoh bagi daerah lain dalam mempromosikan toleransi dan spiritualitas sebagai fondasi bangsa.












