Intuisi.net – Nepal tengah dilanda krisis mendalam setelah dua hari unjuk rasa besar-besaran yang dipimpin oleh Generasi Z (Gen Z) berubah menjadi kekerasan ekstrem. Militer Nepal mengambil alih kendali keamanan di seluruh negeri, termasuk ibu kota Kathmandu, setelah demonstran membakar Gedung Parlemen, Mahkamah Agung, dan rumah-rumah pejabat tinggi, memaksa Perdana Menteri K.P. Sharma Oli mengundurkan diri pada 9 September.
Protes bermula pada 8 September, dipicu oleh larangan pemerintah terhadap 26 platform media sosial, seperti Facebook dan WhatsApp, yang dianggap Gen Z sebagai upaya menyensor kritik terhadap korupsi dan nepotisme elit politik.
Generasi muda, yang mayoritas berusia 13-28 tahun, mengorganisasi aksi damai melalui media sosial dengan tagar #NepoKids, menyoroti gaya hidup mewah anak-anak pejabat di tengah pengangguran 20% di kalangan pemuda. Namun, aksi ini berubah brutal saat polisi menggunakan peluru tajam dan gas air mata, menewaskan setidaknya 30 orang dan melukai lebih dari 1.000 lainnya.
Pada 9 September, massa Gen Z menyerbu kompleks Singha Durbar dan membakarnya, sementara rumah mantan PM Sher Bahadur Deuba dan istri mantan PM lainnya diserang. Ketegangan meningkat hingga militer dikerahkan pada malam hari, memberlakukan jam malam dan menutup Bandara Internasional Tribhuvan sementara.
Hingga kini, militer meminta warga tetap di rumah, sementara para pemimpin Gen Z, yang tidak memiliki struktur formal, mengusulkan mantan Hakim Agung Sushila Karki untuk memimpin pemerintahan interim.
Krisis ini mencerminkan kemarahan mendalam terhadap korupsi dan ketimpangan ekonomi, dengan Gen Z menuntut perubahan radikal. Sementara militer berupaya memulihkan stabilitas, masa depan politik Nepal tetap tidak pasti.












