Intuisi.net – Presiden Prabowo Subianto resmi merombak Kabinet Merah Putih pada Senin sore ini (8/9/2025). Reshuffle ini melibatkan penggantian lima menteri kunci, termasuk nama besar seperti Sri Mulyani Indrawati dari posisi Menteri Keuangan, serta pembentukan Kementerian Haji dan Umrah yang baru. Pelantikan empat menteri dan satu wakil menteri baru digelar di Istana Negara, Jakarta, dihadiri para pejabat negara dengan ciri khas dasi biru muda – simbol Kabinet Merah Putih.
Berita ini langsung meledak di berbagai media sosial dengan hashtag #ReshuffleKabinetPrabowo dan #SriMulyaniLengser menduduki trending topic nasional hanya dalam hitungan jam. Netizen bereaksi campur aduk: dari kagum atas keberanian Presiden hingga spekulasi liar tentang dampak terhadap stabilitas ekonomi. “Ini reshuffle paling dramatis sejak era Jokowi! Prabowo main all-in untuk reformasi,” tulis salah satu akun populer di X, yang langsung mendapat ribuan like dan retweet. Lainnya mempertanyakan, “Kenapa Sri Mulyani diganti? Apakah ini karena tekanan politik atau kinerja?” – mencerminkan keresahan publik terhadap perubahan di posisi strategis.
Daftar Lengkap Perubahan Kabinet: Siapa Diganti, Siapa yang Masuk?
Reshuffle ini fokus pada lima kementerian utama, dengan dua posisi (Menko Polkam dan Menpora) masih kosong untuk sementara waktu. Berikut rinciannya berdasarkan pengumuman resmi:
- Menteri Keuangan: Sri Mulyani Indrawati diberhentikan dan digantikan oleh Purbaya Yudhi Sadewa, mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Penggantian ini menjadi sorotan utama karena Sri Mulyani dikenal sebagai arsitek keuangan Indonesia selama dua dekade.
- Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polkam): Budi Gunawan diberhentikan. Posisi ini belum diisi secara definitif, menimbulkan spekulasi tentang calon pengganti dari kalangan militer atau politisi senior.
- Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI): Abdul Kadir Karding digantikan oleh Mukhtarudin, politikus senior dari Partai Golkar.
- Menteri Koperasi dan UKM: Budi Arie Setiadi digantikan oleh Fery Juliantono, seorang pengusaha berpengalaman di sektor koperasi.
- Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora): Dito Ariotedjo tidak lagi menjabat. Posisi ini juga masih vakum, meskipun Dito sempat menyatakan terima kasih atas kepercayaan selama masa jabatannya melalui pernyataan pribadi di media sosial.
Selain itu, Presiden Prabowo membentuk Kementerian Haji dan Umrah sebagai entitas baru, dengan Mochamad Irfan Yusuf (Gus Irfan), mantan Kepala Badan Penyelenggara Haji, dilantik sebagai menteri. Satu wakil menteri juga dilantik untuk mendukung struktur baru ini. Total, enam pejabat baru mengucap sumpah jabatan di hadapan Presiden, menandai reshuffle pertama Kabinet Merah Putih sejak pelantikan awal pada Oktober 2024.
Analisis Penyebab Reshuffle: Evaluasi Kinerja, Tekanan Politik, dan Respons terhadap Isu Terkini
Mengapa Prabowo berani merombak kabinet yang masih berusia kurang dari setahun? Menurut Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi, keputusan ini murni berdasarkan evaluasi terus-menerus terhadap kinerja menteri yang dilakukan Presiden secara internal. “Atas berbagai perkembangan masukan dan evaluasi yang dilakukan terus-menerus oleh Bapak Presiden,” ungkap Prasetyo, menekankan bahwa reshuffle ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas pemerintahan di tengah tantangan ekonomi global dan domestik.
Beberapa faktor penyebab utama yang bisa dianalisis dari konteks terkini:
- Evaluasi Kinerja dan Masukan Internal: Istana mengakui bahwa perombakan ini lahir dari masukan dari berbagai pihak, termasuk koalisi partai pendukung seperti Gerindra, Golkar, dan Demokrat. Beberapa menteri, seperti Sri Mulyani, dikritik karena kebijakan pajak yang dianggap membebani rakyat kecil di tengah inflasi tinggi. Penggantiannya dengan Purbaya – yang dikenal sebagai ahli keuangan dengan pengalaman di LPS – diharapkan membawa pendekatan lebih inovatif untuk sumber pendapatan negara tanpa membebani masyarakat bawah. Sementara itu, penggantian Budi Gunawan di Menko Polkam mungkin terkait dinamika keamanan nasional pasca-kasus OTT KPK terhadap Wakil Menteri Tenaga Kerja pada Agustus lalu, yang menunjukkan kelemahan koordinasi antar-lembaga.
- Tekanan Politik dan Koalisi: Reshuffle ini juga dilihat sebagai manuver untuk menjaga keseimbangan koalisi. Pengangkatan Mukhtarudin dari Golkar dan Fery Juliantono menunjukkan upaya meredam ketidakpuasan partai koalisi. Selain itu, pembentukan Kementerian Haji dan Umrah bisa menjadi sinyal politik untuk menggalang dukungan umat Islam, terutama menjelang isu haji 2026 yang sering menjadi titik rawan. Analis politik menilai ini sebagai strategi Prabowo untuk “membersihkan” kabinet dari elemen yang dianggap kurang selaras dengan visi “Indonesia Emas 2045”.
- Respons terhadap Isu Ekonomi dan Korupsi: Di balik layar, reshuffle ini merespons kritik publik terhadap kinerja ekonomi, seperti lambatnya pemulihan pasca-pandemi dan kasus korupsi yang melibatkan pejabat tinggi. Penggantian Sri Mulyani, misalnya, datang setelah perdebatan sengit tentang reformasi pajak. Presiden Prabowo sendiri menegaskan dalam pidato pelantikan bahwa “tidak ada menteri yang tak tergantikan jika kinerja tidak memenuhi harapan,” menandakan komitmen anti-korupsi yang lebih tegas. Beberapa sumber menyebut evaluasi ini juga dipengaruhi oleh laporan internal tentang inefisiensi di kementerian-kementerian yang diganti.
Secara keseluruhan, reshuffle ini bukan sekadar rotasi jabatan, melainkan sinyal reformasi struktural untuk mempercepat agenda pemerintahan Prabowo-Gibran. Namun, dengan dua posisi kunci masih kosong, spekulasi tentang gelombang kedua reshuffle terus mengalir di X, di mana reaksi netizen didominasi oleh meme lucu tentang “Sri Mulyani pensiun dini” dan harapan akan kabinet yang lebih “merah putih” sejati.
Apakah ini akan menjadi turning point bagi Kabinet Merah Putih? Pantau terus perkembangannya, karena dampaknya terhadap pasar saham dan kebijakan fiskal diprediksi akan terasa dalam minggu-minggu mendatang.












