Tangerang Selatan, Banten, intuisi.net – World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia, bekerja sama dengan ICLEI – Local Governments for Sustainability, sukses menyelenggarakan pembukaan One Planet City Challenge (OPCC) 2025-2026 di Ballroom Swiss-Belhotel Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten, pada 23-25 Juli 2025. Acara ini dihadiri oleh Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto, CEO WWF Indonesia Aditya Bayunanda, Direktur Eksekutif Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) Alwis Rustam, Wali Kota Langsa Jeffry Sentana S Putra, serta para kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), kepala Dinas Lingkungan Hidup, dan pejabat terkait dari berbagai kota di Indonesia.
Dalam sambutan pembukaan pada 23 Juli 2025, Wamendagri Bima Arya menekankan pentingnya pemahaman kepala daerah terhadap isu perubahan iklim dan pengurangan emisi gas rumah kaca, yang kini menjadi sorotan global karena dampaknya yang luas bagi masyarakat dan lingkungan. “Kepala daerah 80 persen baru dan mayoritas berusia muda. Tugas kita adalah mengarusutamakan isu iklim yang terasa jauh dari keseharian, tetapi kini diminati generasi muda,” ujar Bima.
Bima menambahkan bahwa pemerintah daerah (Pemda) perlu berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk kampus, lembaga kajian, dan organisasi masyarakat sipil (CSO), untuk menangani isu lingkungan. Ia mencontohkan pengalamannya sebagai Wali Kota Bogor, yang menjalin kerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan lembaga kajian untuk mengatasi persoalan lingkungan. “Peningkatan kapasitas aparatur penting, tetapi kita juga harus membuka ruang kolaborasi dengan kampus, think tank, dan lembaga kajian,” katanya.
Lebih lanjut, Bima menjelaskan peran Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dalam mengawasi dan mendukung Pemda. Kemendagri akan terus berkoordinasi dengan sekretaris daerah untuk menyelaraskan program lingkungan hidup dengan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). “Program harus terintegrasi, tidak hanya terfokus pada Dinas Lingkungan Hidup atau Bappeda, tetapi pendekatannya harus komprehensif,” imbuhnya.
Bima juga menyoroti pentingnya membuka ruang pendanaan dari publik dan sektor swasta untuk mendukung program lingkungan, serta melibatkan asosiasi, figur publik, dan kampanye yang inklusif. “Saya siap menjadi jembatan penghubung antara daerah, CSO, dan pemangku kepentingan untuk memastikan target pengurangan emisi tercapai,” tegasnya.
Rangkuman Kegiatan OPCC di Banten
Hari Pertama (23 Juli 2025): Acara dibuka dengan sambutan Wamendagri Bima Arya, diikuti diskusi panel tentang kepemimpinan kota dalam aksi iklim, melibatkan perwakilan kota seperti Jakarta, Bogor, dan Balikpapan.
Hari Kedua (24 Juli 2025): Workshop teknis digelar untuk memperkenalkan pelaporan data iklim melalui platform CDP-ICLEI Track. Wali Kota Langsa Jeffry Sentana berbagi pengalaman kotanya dalam pengelolaan sampah, pemanfaatan mangrove, dan energi terbarukan.
Hari Ketiga (25 Juli 2025): Penutupan acara menandai peluncuran resmi OPCC 2025-2026, dengan pengumuman komitmen awal kota-kota peserta dan pengenalan kampanye We Love Cities untuk melibatkan warga dalam mendukung aksi iklim.
Fokus dan Dampak OPCC 2025-2026
OPCC mengajak kota-kota melaporkan rencana dan aksi iklim inovatif melalui platform CDP-ICLEI Track, sejalan dengan target Perjanjian Paris. Peserta akan mendapatkan pelatihan pelaporan data iklim, panduan rencana aksi iklim, dan akses ke jaringan global seperti Global Covenant of Mayors for Climate and Energy (GCoM). Kota-kota terbaik akan diakui sebagai Pemenang Nasional, dengan satu kota sebagai Pemenang Global pada November 2025. Sejak 2011, OPCC telah melibatkan hampir 900 kota dari 70 negara, dengan potensi pengurangan emisi hingga 3,9 gigaton CO2e pada 2050.Ajakan untuk Kota-Kota Indonesia
“Kota-kota adalah garda terdepan dalam aksi iklim global. Peluncuran OPCC di Banten menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antar-kota demi masa depan rendah karbon dan tangguh iklim,” ujar CEO WWF Indonesia Aditya Bayunanda.
Kota-kota yang berminat dapat mengajukan Expression of Interest (EOI) melalui platform CDP-ICLEI. Informasi lebih lanjut tersedia di http://panda.org/opcc.












