Batam, intuisi.net – Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri Kota Batam resmi menganugerahkan gelar adat kepada Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, H. Amsakar Achmad, dan Wakil Wali Kota Batam sekaligus Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, dalam prosesi adat yang khidmat di Istana Besar Madani, Gedung LAM/Nong Isa, Batam Centre, pada Selasa (17/6/2025).
Amsakar Achmad dianugerahi gelar Dato’ Setia Amanah, yang melambangkan seorang pemimpin yang setia menjaga amanah, integritas, dan kepercayaan rakyat. Sementara itu, Li Claudia Chandra menerima Tanda Kehormatan Adat Dato’ Setia Bijaksana, mencerminkan sosok pemimpin perempuan yang arif dan bijaksana dalam pengambilan keputusan. Prosesi ini dipimpin oleh Ketua LAM Kepri Kota Batam, Dato’ Wira Setia Utama YM. H. Raja Muhammad Amin, disaksikan oleh para datuk, datin, tokoh masyarakat, Forkopimda, dan tamu undangan.
Alasan Pemberian Gelar Adat
Penganugerahan gelar ini diberikan sebagai pengakuan atas dedikasi dan komitmen Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra dalam memajukan pembangunan Batam sembari melestarikan nilai-nilai budaya Melayu. Amsakar dikenal atas kepemimpinannya yang visioner dalam mengembangkan infrastruktur Batam dengan sentuhan identitas Melayu, seperti arsitektur Melayu pada fasilitas publik dan penggunaan bahasa Melayu pada signage bandara. Sementara itu, Li Claudia, sebagai perempuan non-Melayu pertama yang menerima tanda kehormatan adat, menunjukkan semangat inklusivitas LAM dalam mengakui kontribusinya sebagai pemimpin yang bijaksana dan harmonis di tengah keberagaman masyarakat Batam. Gelar ini juga menjadi amanah agar keduanya terus menjalankan tugas dengan berpijak pada nilai-nilai adat Melayu, seperti keadilan, kesantunan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Tentang LAM dan Perannya
Lembaga Adat Melayu (LAM) adalah organisasi yang berperan sebagai penjaga, pelestari, dan pengembang budaya, adat, serta tradisi Melayu di Indonesia. Di Kota Batam, LAM Kepri memiliki fungsi penting dalam memperkuat identitas Melayu sebagai jati diri masyarakat di tengah perkembangan kota yang multikultural. LAM bertugas menjaga nilai-nilai luhur seperti sopan santun, kebersamaan, dan keadilan, serta mempromosikan warisan budaya melalui seni, bahasa, dan tradisi. Selain itu, LAM berperan sebagai mediator budaya, memberikan masukan kepada pemerintah daerah untuk mengintegrasikan nilai-nilai Melayu dalam pembangunan, seperti pendirian kampung adat, penggunaan pakaian Melayu di ruang publik, dan pelestarian kampung tua sebagai simbol “Bumi Melayu”.
Prosesi dan Harapan LAM
Prosesi penabalan diawali dengan pembacaan warkah gelar, diikuti pemasangan tanjak dan penyematan keris kepada Amsakar sebagai simbol keberanian dan kehormatan. Untuk Li Claudia, prosesi meliputi pemasangan tudung mantuh, selendang, dan pingat sebagai lambang kelembutan dan martabat perempuan Melayu.
Dalam sambutannya, Raja Muhammad Amin menegaskan bahwa gelar ini merupakan amanah besar untuk menjaga nilai-nilai kemelayuan. “Gelar ini melekat selama keduanya menjabat dan tidak melanggar norma, adat, atau etika. Kami berharap Batam menjadi Bandar Dunia Madani yang berakar pada budaya Melayu yang inklusif,” ujarnya. Ia juga mengusulkan pendirian Kampung Adat atau Taman Mini Batam Madani, pemutaran lagu Melayu di ruang publik, dan penerapan pakaian Melayu pada hari tertentu di sekolah dan perkantoran.
Amsakar Achmad menyampaikan rasa terima kasih atas kepercayaan LAM dan masyarakat. “Gelar ini adalah pengingat besarnya tanggung jawab kami. Kami berkomitmen menuntaskan pembangunan Batam dengan mengedepankan identitas Melayu, seperti arsitektur tradisional dan pelestarian kampung tua,” katanya.
Li Claudia Chandra, yang merasa terhormat dengan anugerah ini, menegaskan komitmennya untuk memimpin dengan bijaksana. “Saya ingin memimpin dengan tegas namun lembut, mengutamakan kepentingan masyarakat. Terima kasih atas inklusivitas LAM yang mengakui peran saya sebagai perempuan non-Melayu,” ucapnya.
Prosesi ini mendapat sambutan hangat dari berbagai pihak. Kapolresta Barelang, Kombes Pol Zaenal Arifin, menyebut gelar ini sebagai cerminan nilai agama, budaya, dan tradisi yang diwariskan. Ketua DPRD Kota Batam, H. Muhammad Kamaluddin, juga mengapresiasi upaya LAM dalam memperkuat identitas Melayu melalui penganugerahan ini.
Amsakar dan Li Claudia menyatakan kesiapan untuk mewujudkan usulan LAM demi menjaga identitas Melayu di tengah perkembangan Batam sebagai kota metropolitan yang modern dan harmoni.












