Teheran/Jerusalem, intuisi.net – Ketegangan antara Iran dan Israel kembali meningkat, memicu kekhawatiran akan potensi konflik terbuka yang dapat mengguncang stabilitas Timur Tengah dan dunia. Berakar dari permusuhan historis, eskalasi terbaru menunjukkan tanda-tanda awal konflik yang lebih besar, dengan implikasi global yang signifikan. Berikut adalah gambaran potensi awal konflik berdasarkan perkembangan terkini.
Akar Konflik
Rivalitas Iran-Israel berawal sejak Revolusi Islam 1979, yang mengubah hubungan kedua negara menjadi permusuhan ideologis dan strategis. Iran menolak keberadaan Israel dan mendukung kelompok proksi seperti Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Gaza. Sebaliknya, Israel memandang program nuklir Iran dan aktivitas regionalnya sebagai ancaman eksistensial, memicu serangkaian operasi intelijen dan militer selama beberapa dekade.
Pemicu Eskalasi Terkini
Konflik memanas sejak serangan udara Israel pada 1 April 2024 di kompleks kedutaan Iran di Damaskus, menewaskan tujuh perwira militer Iran, termasuk seorang jenderal senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Iran membalas dengan operasi “True Promise” pada 13–14 April 2024, meluncurkan lebih dari 300 drone dan rudal ke Israel, meskipun sebagian besar berhasil dicegat.
Eskalasi berlanjut pada Oktober 2024, ketika Iran melancarkan serangan rudal balistik besar-besaran ke Israel sebagai respons atas serangan Israel terhadap target strategis di Iran dan wilayah sekutunya. Israel membalas dengan serangan udara pada 26 Oktober 2024, menargetkan fasilitas militer di Teheran dan Isfahan. Ketegangan mencapai puncaknya pada Juni 2025, dengan serangan rudal balistik Iran ke Tel Aviv dan Yerusalem, yang disebut “True Promise 3,” menyusul kematian beberapa komandan senior IRGC, termasuk Hossein Salami, dalam operasi yang dikaitkan dengan Israel.
Faktor Pemicu Potensial
Program Nuklir Iran: Kekhawatiran Israel atas kemajuan nuklir Iran semakin meningkat, terutama setelah laporan intelijen menyebutkan kemungkinan Iran memperoleh data sensitif tentang fasilitas nuklir Israel melalui operasi spionase. Ancaman serangan pre-emptive Israel terhadap situs nuklir Iran dapat memicu perang skala penuh.
Perang Proksi: Dukungan Iran terhadap Hizbullah, Hamas, dan Houthi memperluas front konflik. Serangan roket Hizbullah dari Lebanon dan serangan drone Houthi dari Yaman ke Israel, serta serangan balasan Israel ke Lebanon dan Suriah, meningkatkan risiko keterlibatan langsung Iran.
Dampak Ekonomi Global: Konflik berpotensi mengganggu Selat Hormuz, jalur utama ekspor minyak dunia. Gangguan pasokan minyak dapat menyebabkan kenaikan harga energi global, berdampak pada negara-negara seperti Indonesia yang bergantung pada impor minyak.
Respons Internasional
Amerika Serikat, sekutu utama Israel, menegaskan kembali komitmennya untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, meskipun Presiden Donald Trump menyatakan AS tidak terlibat langsung dalam serangan Israel. Rusia dan China, yang cenderung mendukung Iran secara diplomatik, menyerukan de-eskalasi. Sekjen PBB Antonio Guterres memperingatkan risiko “konflik regional yang menghancurkan” dan mendesak negosiasi segera.
Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri, menyatakan keprihatinan mendalam dan menyerukan penyelesaian damai, menekankan pentingnya solusi dua negara untuk isu Palestina sebagai kunci stabilitas kawasan.
Prospek dan Dampak
Analis hubungan internasional, seperti Dr. Pablo Calderon Martinez dari Northeastern London, memperingatkan bahwa eskalasi dapat memicu krisis energi global dan potensi konfrontasi nuklir. Namun, beberapa pakar, seperti Kishino Bawono dari Universitas Katolik Parahyangan, berpendapat bahwa kedua pihak masih menghindari perang total karena konsekuensi yang terlalu besar. Meski demikian, dunia tetap waspada terhadap kemungkinan kesalahan kalkulasi yang dapat memicu konflik lebih luas.
efek kepada Indonesia?
Konflik Iran-Israel
Eskalasi ketegangan antara Iran dan Israel menimbulkan kekhawatiran akan dampak signifikan bagi Indonesia, baik dari sisi ekonomi, keamanan, maupun kemanusiaan. Berikut adalah analisis efek potensial konflik ini terhadap Indonesia berdasarkan perkembangan terkini.
- Dampak Ekonomi: Gangguan Pasokan Energi dan Kenaikan Harga Minyak
Konflik Iran-Israel berpotensi mengganggu Selat Hormuz, jalur pelayaran utama untuk ekspor minyak dari Teluk Persia. Iran, sebagai salah satu produsen minyak terbesar, memainkan peran kunci dalam pasokan energi global. Jika konflik menyebabkan penutupan atau gangguan di Selat Hormuz, harga minyak dunia dapat melonjak drastis.
Indonesia, sebagai negara pengimpor minyak, akan menghadapi:
Kenaikan harga bahan bakar: Lonjakan harga minyak dapat meningkatkan biaya bahan bakar domestik, memengaruhi harga transportasi dan logistik.
Inflasi: Kenaikan harga energi dapat memicu inflasi, menaikkan harga barang kebutuhan pokok dan membebani daya beli masyarakat.
Defisit anggaran: Subsidi energi yang membengkak dapat menekan APBN, mengingat Indonesia masih mengimpor sekitar 30% kebutuhan bahan bakar minyaknya.
Pakar ekonomi dari Universitas Indonesia, Dr. Fithra Faisal, memperkirakan bahwa kenaikan harga minyak sebesar 10% dapat menambah beban subsidi energi hingga Rp20 triliun per tahun, memaksa pemerintah untuk menyesuaikan kebijakan fiskal atau harga BBM.
- Dampak Perdagangan dan Investasi
Eskalasi konflik dapat mengganggu rantai pasok global, termasuk perdagangan komoditas seperti minyak sawit dan nikel, yang merupakan andalan ekspor Indonesia. Negara-negara Timur Tengah, termasuk sekutu Iran dan Israel, merupakan pasar penting untuk produk Indonesia. Ketidakstabilan regional dapat:
Mengurangi permintaan ekspor dari kawasan Timur Tengah.
Menghambat investasi asing, karena investor cenderung menghindari wilayah dengan risiko geopolitik tinggi, termasuk Asia Tenggara yang terkait erat dengan pasar energi global.
- Dampak Keamanan: Ancaman Terorisme dan Stabilitas Regional
Konflik Iran-Israel dapat memperkuat polarisasi ideologis di kawasan, meningkatkan risiko radikalisasi dan aktivitas kelompok ekstremis. Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, mungkin menghadapi:
Peningkatan sentimen anti-Barat: Dukungan AS terhadap Israel dapat memicu sentimen anti-Barat, yang berpotensi dimanfaatkan kelompok radikal untuk merekrut anggota baru.
Ancaman keamanan domestik: Ketegangan di Timur Tengah dapat menginspirasi aksi terorisme atau protes besar-besaran, terutama jika konflik dikaitkan dengan isu Palestina.
Kepolisian Republik Indonesia telah meningkatkan kewaspadaan di lokasi-lokasi strategis, termasuk kedutaan besar negara-negara terkait, untuk mengantisipasi potensi ancaman.
- Dampak Kemanusiaan: Krisis Pengungsi dan Bantuan Internasional
Jika konflik meluas menjadi perang regional, gelombang pengungsi dari Timur Tengah dapat meningkat. Indonesia, meskipun bukan tujuan utama pengungsi, mungkin menghadapi tekanan untuk:
Menampung pengungsi melalui program kemanusiaan internasional.
Meningkatkan kontribusi bantuan kemanusiaan, yang dapat membebani anggaran negara.
Pemerintah Indonesia telah menyatakan komitmennya untuk mendukung solusi damai, khususnya melalui dukungan terhadap kemerdekaan Palestina, yang dianggap sebagai akar ketegangan di kawasan.
Respons Pemerintah Indonesia
Kementerian Luar Negeri RI menyerukan de-eskalasi dan penyelesaian damai, menekankan pentingnya dialog multilateral melalui PBB. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyatakan, “Indonesia mendesak semua pihak untuk menahan diri dan mencegah eskalasi yang dapat merugikan stabilitas global, termasuk dampaknya bagi Indonesia.” Pemerintah juga berencana memperkuat cadangan energi nasional dan diversifikasi sumber impor minyak untuk mengurangi risiko gangguan pasokan.
Prospek ke Depan
Indonesia perlu mempersiapkan langkah antisipatif, termasuk:
Mempercepat transisi energi terbarukan untuk mengurangi ketergantungan pada minyak impor.
Meningkatkan diplomasi ekonomi untuk menjaga akses pasar ekspor di tengah ketidakpastian global.
Mengintensifkan pemantauan keamanan domestik untuk mencegah dampak tidak langsung dari konflik.
Dunia, termasuk Indonesia, kini mengamati perkembangan di Timur Tengah dengan cermat. Stabilitas regional dan global bergantung pada kemampuan komunitas internasional untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.












