Nurdin Basirun Gabung Demokrat Kepri

Comeback Kontroversial atau Strategi Jitu?

Nurdin Basirun Gabung Demokrat Kepri: Comeback Kontroversial atau Strategi Jitu?
Nurdin Basirun Gabung Demokrat Kepri

Kepri, intuisi.net – Geliat politik Kepulauan Riau (Kepri) mendadak panas. Nurdin Basirun, mantan Gubernur Kepri yang pernah tersandung kasus korupsi, resmi menyatakan “kembali” ke panggung politik dengan bergabung ke Partai Demokrat. Dalam acara penuh simbolisme di Jakarta, Kamis (15/5), Nurdin menerima Kartu Tanda Anggota (KTA) Partai Demokrat langsung dari Sekretaris Jenderal DPP Demokrat, E. Herman Khaeron. Hadir pula Ketua DPD Demokrat Kepri, Aneng, dan Sekretaris DPD, Remon, yang tampak sumringah menyambut “amunisi baru” ini. Namun, di balik sorak sorai, langkah Nurdin memicu gelombang diskusi: apakah ini comeback cerdas atau langkah berisiko?

Kembalinya Sang “Raja Kepri”

Nurdin Basirun bukan nama sembarangan di Kepri. Pria kelahiran Karimun ini punya rekam jejak panjang: Bupati Karimun (2001-2011), Wakil Gubernur Kepri (2011-2016), hingga Gubernur Kepri (2016-2019). Ia dikenal sebagai politikus yang dekat dengan akar rumput, dengan jaringan kuat di kalangan masyarakat Melayu dan pengusaha lokal. Program-programnya, seperti pembangunan infrastruktur pelabuhan dan kawasan industri di Karimun, pernah jadi magnet dukungan. Namun, citranya runtuh saat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkapnya pada 2019 atas kasus suap dan gratifikasi terkait proyek reklamasi di Kepri.

Divonis 4 tahun penjara dan denda Rp200 juta, Nurdin kehilangan hak politik selama 5 tahun pasca-bebas bersyarat pada 2022. Publik mengira karier politiknya tamat. Tapi, aturan baru Komisi Pemilihan Umum (KPU) membuka celah: mantan terpidana korupsi kini boleh mencalonkan diri sebagai legislator tanpa jeda waktu, selama hak politiknya tidak dicabut dalam putusan pengadilan. Nurdin, yang vonisnya tidak mencakup pencabutan hak politik permanen, memanfaatkan celah ini untuk bangkit.

Dengan jaket biru Demokrat, Nurdin tampil percaya diri di acara pengukuhan. “Saya kembali bukan untuk kepentingan pribadi, tapi untuk melayani masyarakat Kepri. Demokrat adalah rumah baru saya, dengan visi yang sejalan untuk kemajuan daerah,” ujarnya. Ia juga menyinggung “kesalahan masa lalu” dengan nada reflektif, mengaku telah meminta maaf kepada publik dan fokus pada kontribusi ke depan.

Demokrat Kepri: Taruhan Besar

Bagi Partai Demokrat Kepri, kehadiran Nurdin adalah suntikan adrenalin. Ketua DPD Demokrat Kepri, Aneng, menyebut Nurdin sebagai “aset besar” yang akan memperkuat posisi partai di Pilkada 2026 dan Pemilu 2029. “Pak Nurdin punya basis massa yang masih loyal, terutama di Karimun, Natuna, dan Batam. Pengalamannya juga jadi modal untuk menyusun strategi pemenangan,” kata Aneng. Ia menegaskan bahwa Demokrat tidak mempersoalkan masa lalu Nurdin, karena partai fokus pada “kapasitas dan komitmen” ke depan.

Langkah ini juga jadi bagian dari strategi Demokrat untuk bangkit di Kepri, di mana partai ini sempat meredup pasca-Pemilu 2024 yang hanya menyisahkan 3 kursi di DPRD Kepri. Dengan Nurdin, Demokrat berharap bisa merebut kembali kursi legislatif dan bahkan mengincar posisi eksekutif di Pilkada. Sekretaris DPD Demokrat Kepri, Remon, menambahkan, “Kami sedang konsolidasi besar-besaran. Nurdin akan jadi jembatan untuk menarik lebih banyak tokoh lokal bergabung.”

Namun, taruhan ini tidak tanpa risiko. Demokrat bisa jadi sorotan karena menerima mantan terpidana korupsi, apalagi di tengah publik yang kian kritis terhadap isu integritas. Pengamat politik dari Kota Batam, DR. Sastra Tamami, yang juga pernah menjabat sebagai  anggota KPU Kota Batam tahun 2018-2023, menilai langkah Demokrat sebagai “pedang bermata dua”. “Di satu sisi, Nurdin punya nama besar dan jaringan. Di sisi lain, citra partai bisa tergerus, terutama di kalangan pemilih muda yang anti-korupsi,” ujarnya. Sastra juga mencatat bahwa kesuksesan Nurdin akan bergantung pada kemampuannya “merekonstruksi” citra di mata publik.

Jalan Panjang Nurdin

Sebelum Demokrat, Nurdin pernah berkiprah di Partai NasDem dan Hanura, dua partai yang membesarkan namanya di Kepri. Keputusannya pindah ke Demokrat disebut-sebut karena peluang lebih besar untuk “berkompetisi” di Pilkada atau Pemilu mendatang. Namun, tantangan terbesar Nurdin bukan hanya soal citra, tapi juga kompetisi internal. Demokrat Kepri punya banyak kader muda yang sedang naik daun, dan kehadiran Nurdin bisa memicu friksi. “Dia harus buktikan bahwa dia bukan sekadar ‘nama besar’, tapi juga punya strategi konkret untuk menang,” kata Sastra.

Apa Selanjutnya?

Langkah Nurdin Basirun bergabung dengan Demokrat Kepri jelas jadi gebrakan besar. Di satu sisi, ia membawa modal politik yang tak bisa diremehkan: nama besar, jaringan luas, dan pengalaman panjang. Di sisi lain, bayang-bayang kasus masa lalu dan ekspektasi publik yang tinggi akan jadi ujian berat. Bagi Demokrat, ini adalah taruhan strategis untuk mengguncang peta politik Kepri, tapi juga langkah yang bisa memicu polemik berkepanjangan.

Apakah Nurdin akan sukses menulis babak baru sebagai “pahlawan comeback”, atau justru terjebak dalam kontroversi yang menghambat? Satu hal pasti: mata publik Kepri, dan mungkin nasional, kini tertuju padanya. Perjalanan politik Kepri baru saja memasuki episode yang penuh teka – teki.

Writer: indEditor: hrp

Responses (4)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *